Kesehatan

Dita Jumarya dan Candra Sopian Soroti Kematian Ibu dan Bayi di Lokakarya Majalaya

×

Dita Jumarya dan Candra Sopian Soroti Kematian Ibu dan Bayi di Lokakarya Majalaya

Sebarkan artikel ini

Kab.Bandung, Parahiangannews – Sejumlah unsur melaksanakan Lokakarya Mini Lintas Sektor Puskesmas Majalaya Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung di Aula Kantor Kecamatan Majalaya, Rabu (10/12/2025).

Lokakarya ini dihadiri Kepala Puskesmas Cikaro dr. H. Dita Jumarya, Kepala Puskesmas Wangisagara H. Candra Sopian, tenaga kesehatan, bidan dan lainnya. Jajaran Forkopimcam Majalaya, para kepala desa, destana dan pihak lainnya.

Dalam sambutannya, Kepala Puskesmas Cikaro dr. Dita Jumarya mengatakan kegiatan lokakarya ini dalam rangka evaluasi kinerja tahun 2025 dan merencanakan kegiatan tahun 2026. Lokakarya ini dilaksanakan empat kali dalam setahun.

Pada pelaksanaan lokakarya itu turut membahas kematian ibu dan bayi di Kabupaten Bandung, khususnya di Kecamatan Majalaya.

“Bagaimana kita berusaha untuk mencegah kematian ibu dan bayi saat melahirkan. Sebagai harapan kita bersama, ibu saat melahirkan bayinya sehat,” kata Dita.

Ia mengatakan disaat ada kematian ibu dan bayi setelah menjalani proses kelahiran, bukan disebabkan karena kelalaian atau lambat dalam penanganan atau pelayanan medis. Hal ini untuk menghindari ibu dan bayinya saat dilahirkan tak tertolong.

“Tapi kalau murni takdir Allah, itu sudah diluar kemampuan manusia. Tapi kita berusaha untuk mencegah kematian ibu dan bayi saat melahirkan,” katanya.

Dita turut menjelaskan perbedaan program MBG (Makan Bergizi Gratis).dan PMT (Pemberitaan Makanan Tambahan). MBG diberikan kepada para pelajar di sekolah. Program MBG ini untuk mempersiapkan generasi muda yang benar-benar berkualitas dalam menghadapi Indonesia Emas 2045. Sedangkan program PMT diberikan secara selektif, dengan sasaran anak penderita stunting dan anak mengalami gizi kurang sebagai penerima manfaat program tersebut.

Dita mengajak kepada masyarakat untuk memanfaatkan layanan check kesehatan gratis. Diupayakan setiap setahun sekali melakukan check kesehatan dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki.

Ia pun mengungkapkan tentang BPJS yang tidak aktif, yang sebelumnya aktif. Karena penerima manfaat BPJS sudah naik kelas, sehingga tiba-tiba BPJS-nya tidak aktif.

Dita juga turut mengungkapkan bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah hingga menjadi sebuah peristiwa alam yang mengerikan.

“Tapi di Majalaya tak sampai mengkhawatirkan. Tapi kita harus memitigasi melihat kedepan. Mulai dari potensi bencana longsor, banjir bandang,” katanya.

Selain itu, Dita turut menyoroti bencana gempa bumi megathrust.

“Berharap tak ada gempa bumi kekuatan besar. Meski demikian, upaya mitigasi harus dilakukan untuk mencegah dampak serius terjadinya gempa bumi,” ujarnya.

Ia pun turut memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan upaya pencegahan kejadian luar biasa penyakit yang tak diinginkan. Yaitu melalui gerakan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat), dan jangan buang sampah sembarang. Dita juga mengajak masyarakat untuk sama-sama mencegah penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue), diare, sehingga harus dibarengi dengan gerakan bersih-bersih lingkungan.

“Inilah pentingnya dilaksanakan lokakarya untuk menyampaikan pesan kami dari puskesmas ke masyarakat. Berharap sosialisasi ini bisa menyentuh warga masyarakat,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Wangisagara H. Candra Sopian menambahkan salah satu prioritas layanan kesehatan diantaranya penurunan angka kematian ibu dan anak, saat melahirkan.

“Dalam kegiatan lokakarya mini se-Kecamatan Majalaya disampaikan pentingnya kolaborasi yang kuat bagi seluruh lintas sektor dan elemen masyarakat dalam upaya pencegahan kematian ibu dan anak,” ujar Candra.

Untuk menekan angka AKI dan AKB tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor kesehatan, lanjut Candra, melainkan perlu peran dari tokoh masyarakat, tokoh agama, maupun lintas sektoral.

“Kolaborasi-kolaborasi dengan sektor pendidikan, KUA, pengendalian penduduk dan seluruh elemen masyarakat yang sudah terjalin terus akan kita tingkatkan,” ujarnya.

Misalnya, kolaborasi dengan KUA dengan melaksanakan bimbingan perkawinan bagi calon pengantin tentang pentingnya kesiapan fisik dan mental menjalani kehamilan.

“Edukasi bagi remaja usia sekolah juga penting, para remaja perlu mengetahui resiko dan bahaya melangsungkan pernikahan di bawah umur,” pungkasnya.**

Example 120x600

You cannot copy content of this page